A reflection of these last days' events compilated as a vignette of Dmitri-Ernst saga.... Do read if you care about what Family really means, because, above anything, I believe that a traitor who betrays the true meaning of Family is a low and traitor is the lowest of all being.
Dedicated to the lowest, S-Someone So Stupid.
Hello, Leader!
Author: pratz
Selamat pagi, Pemimpin!
Sarapan apa Pemimpin pagi ini? Roti dan daging asapkah? Nikmatilah sarapan Anda, Pemimpin, dan jangan lupa bersyukur karena Anda masih bisa menikmati hidangan mewah dibandingkan dengan aking dan bongkrek yang digoreng dengan jelantah yang kami makan. Oh, bukan, bukan, Pemimpin. Kami tidak iri. Sama sekali tidak. Tidak! Widji Tukul, salah satu pahlawan kami berkata, "Cinta ibuku membuat sayur murah menjadi enak." Makanan kami dimasak dengan Cinta. Cinta ibu-ibu yang rela kepanasan agar anaknya bisa tenang. Cinta ayah-ayah yang pasang badan di depan agar kami tidak diusir lebih dulu. Cinta, Pemimpin!
Setelah makan, bacalah koran pagi, Pemimpin. Koran pagi bagus untuk rohani Pemimpin. Pengetahuan tidak akan menggendutkan perut Pemimpin lebih-lebih; ia hanya akan menggendutkan otak Pemimpin. Maka, tengoklah koran pagi milik Pemimpin. Di halaman muka ada berita tentang kami. Di situ tertulis, "Kelompok mbalelo membikin huru-hara." Kami kelompok mbalelo katanya, Pemimpin, hanya karena kemarin kami melempar kritik untuk salah satu pemikiran Pemimpin--meski kami tidak tahu entah kami yang tidak memahami jalan pikiran Pemimpin atau Pemimpin yang berpikir tanpa memikirkan kami. Di koran tertulis pula, "Protes sebuah kelompok ditunggangi oleh orang-orang mbalelo yang berdarah panas dan berpikiran pendek." Oh ya-ya-yaaa! Kami berpikiran pendek!
Pemimpin sekali waktu berkata ingin menjadi 'ayah' bagi semua pihak. Ingin melindungi semua pihak. Ingin merangkul semua pihak, Ingin menjadi yang baik-baik bagi semua pihak. Yaah, jika menurut Pemimpin 'ayah' adalah seseorang yang harus didengar setiap katanya tanpa pandang bulu, dipatuhi, dan ditakuti... maaf sekali. Apa bedanya 'ayah' versi Pemimpin itu dengan laki-laki berkumis lucu dari Jerman atau jenderal Indonesia dari Kemusuk yang selalu tersenyum? Kami tidak ingin menukar ayah-ayah kami dengan 'ayah' versi Pemimpin. Kami sudah puas dengan ayah-ayah kami yang mau mendengar sebelum bicara. Kami sudah puas dengan ayah-ayah kami yang melihat dengan hati, yang tidak hanya merepeti kata-kata para pembisik. Kami sudah puas dengan ayah-ayah kami yang mengajarkan bahwa mata-ganti-mata hanya akan membuat dunia buta. Kami sudah puas dengan ayah-ayah kami dan kami rasa kami tidak akan bisa menemukan ayah-ayah yang lebih baik lagi. Pemimpin boleh memimpikan menjadi 'ayah' bagi kami, tapi maaf! Teramat maaf! Kami sudah memiliki ayah-ayah kami sendiri.
Pemimpin,
Kami percaya bahwa keluarga Pemimpin adalah keluarga yang diberkati Tuhan juga. Bahagiakah mereka? Sejahterakah mereka lahir batin? Adakah batin mereka sebahagia badannya yang bergelimang kuasa? Atau apakah Pemimpin juga mengharuskan mereka menciumi kaki Pemimpin, terbungkuk-bungkuk ketakutan dalam usaha menaati kata-kata Pemimpin? Ah, sungguh kami ingin mendoakan keluarga Pemimpin jika memang kondisi terakhirlah yang terjadi. Tidakkah orang tua Pemimpin pernah mengajarkan arti keluarga? Tidakkah keluarga menerima satu sama lain *apa adanya*? Tidakkah keluarga bukan sepasukan tentara? Jika 'ayah' hanya mau didengar, jadi jenderal sajalah. Jika 'ibu' hanya bisa mencicit di belakang kuasa 'ayah', jadi pendongeng sajalah. Bukankah seorang jenderal wajib dipatuhi dan seorang pendongeng menjual kata-kata karena memang begitulah kerja mereka? Maaf sekali lagi, Pemimpin. Keluarga dengan anggota berkelakuan jenderal dan pendongeng macam itu adalah keluarga yang mengalami disfungsi, difabel, dan malpraktik. Kalau memang hanya temali biologis yang bisa mengikat sebuah keluarga, bolehlah yang macam itu menjauh dari kehidupan kami!
Tidakkah keluarga, melebihi segalanya, saling men-Cinta, Pemimpin? Tidakkah keluarga tidak bicara dengan kepalan tangan? Tidakkah keluarga berevolusi dari Telinga Besar lalu Penyambung Lidah lalu Kemanusiaan?
Koran berkata, "Para mbalelo ini berani hanya karena mereka berbanyak-banyak jumlahnya." Banyak? Alah, apa artinya jumlah, Pemimpin! Bukankah Pemimpin sendiri mengajarkan, 'bersatu kita teguh'? 'Jadilah kompak supaya menjadi tangguh'? Kami hanya mengamalkan ajaran Pemimpin sendiri. Lagipula, tidakkah anggota keluarga Pemimpin juga hanya berani merepeti kami saat mereka ditamengi oleh kuasa Pemimpin? Ah, semoga mereka tidak memanfaatkan Pemimpin. Doa kami untuk mereka. Namun, jika memang kami salah paham dan Pemimpin memutuskan untuk berubah pikiran dan menjilat ludah yang pernah muncrat sewaktu Pemimpin mengajari kami ajaran-ajaran soal 'keluarga' tadi, tolong luangkan waktu untuk memberitahu kami.
Satu yang ingin kami tanyakan, Pemimpin: apa yang salah dengan bersuara sendirian? Apa yang salah dengan bersuara berbeda? Tidakkah Gie, Munir, dan Yesus pergi dengan menempuh jalan sunyi mereka? Apa yang salah dengan memilih jalan sunyi yang benar daripada jalan ramai yang membuat kami membohongi diri sendiri? Jalan sunyi menuju Cinta jauh lebih indah daripada jalan ramai menuju kemunafikan. Banyak yang kami pelajari dari mereka yang memilih jalan sunyi dan berjalan sendirian. Bersama Yesus kami menyalibkan keegoisan. Bersama Gandhi kami belajar berkata benar, berpikir benar, hidup benar. Bersama Marsinah kami belajar membela yang disakiti. Itulah Keadilan sesejati-sejatinya! Hanya Keadilan sejati yang mampu mendatangkan Kebebasan sejati. Lalu di mana posisi Pemimpin? Rasanya kami tidak melihat ada nama Pemimpin di antara pahlawan-pahlawan kami.
Pemimpin yang terhormat, bijaksana, dan welas asih,
Atau adakah selama ini kami telah salah paham? Telah begitu bebal? Telah begitu degil? Telah salah tangkap? Salah duga? Adakah sebenarnya Pemimpin merasa kami *masih* berutang budi pada Pemimpin? Adakah sebenarnya Pemimpin merasa kami kurang ajar dan tak tahu terima kasih? Ah, betapa cemarnya kami ini jika memang demikian. Tapi sungguhkah? Salah, Pemimpin. *Salah!* Kami ada di sini bukan karena Pemimpin. Kami ada di sini karena usaha kami sendiri. Adakah Pemimpin membantu kami untuk ada di sini? Adakah keberadaan kami di sini membutuhkan restu Pemimpin? Jika memang demikian, ke mana perginya ajaran 'keluarga' yang Pemimpin gembar-gemborkan? Ke mana perginya semangat persaudaraan egaliter yang dulu Pemimpin kobarkan? Cuma jadi cerita pengantar tidur tampaknya. Kami tidak bertanggung jawab kepada Pemimpin. Kami bertanggung jawab atas nasib kami sendiri.
Jika Pemimpin menginginkan kami membalas utang, ini! Ini kami sodorkan kami punya telinga! Teriakkan di telinga kami keras-keras agar kami tidak lagi bebal dan salah paham!
Pemimpin yang cerdas dan lapang dada,
Mungkin kesalahan terbesar kami adalah karena kami telah salah menilai Pemimpin. Kami percaya kami dikelilingi oleh sebuah keluarga besar yang penuh Cinta. Tidak perlu muluk-muluk, Cinta itu hadir lewat perhatian. Lewat kata-kata sapaan. Lewat salam setiap pagi. Lewat tindakan membolehkan kami mengenal apa yang dinamakan 'bertindak dan menanggung risiko'. Kami tidak kekurangan empati satu kepada yang lain dalam sumsum kami. Mendukung, *bukan* mengekang. Menyemangati, *bukan* mendesak. Cinta tidak perlu besar-besar amat. Tidak perlu bergembar-gembor amat. Tidak perlu direpet-repeti ke mana-mana. Cinta hanya perlu menjadi sebesar Cinta itu sendiri. Namun, Pemimpin, maafkanlah jika kami berpikir bahwa Pemimpin seperti seorang aktor yang terlalu lama berada di panggung dan lupa turun. Lupa pada keringat dan perjuangan orang-orang di belakang panggung. Lupa pada perjuangan untuk berdiri di atas panggung itu. Lupa bahwa manusia akan cacat jiwanya jika dibesarkan dengan keteraturan. Lupa bahwa manusia akan rapuh jiwanya jika dibesarkan dalam kekerasan. Lihatlah Hercules di Tanah Abang. Lihatlah orang-orang berturban yang menyerukan pelaknatan terhadap mereka yang tidak berturban. Lihatlah manusia yang mati satu persatu di Irak. Lihatlah semua itu, Pemimpin! Kekerasan tidak menyelesaikan masalah! Yah, kami tidak menyalahkan Pemimpin. Keterlenaan dan keterbiasaan memang bisa menjadi musuh yang mengerikan. Raja yang terlalu lama bertahta hanya akan menjadi seorang tua degil. Pertapa yang terlalu lama dijadikan guru hanya akan menjadi Sengkuni.
Pemimpin yang diberkati Tuhan,
Kami akan mengingat Pemimpin dalam doa-doa kami. Kami akan menyebut Pemimpin dalam doa-doa kami. Tapi, yaah... selama Pemimpin masih menganggap kami anak ayam yang harus terus digiring ke sana kemari, sulit rasanya bagi kami untuk memasukkan 'cinta' Pemimpin ke dalam kepala dan hati kami. Benar, Pemimpin. Kepala saja tidak cukup. Hanya manusia yang--menurut bahasa Pemimpin--bebal dan keras hatilah yang sanggup hidup tanpa hati. Tentunya itikad baik Pemimpin adalah menjadikan kami orang-orang yang sejahtera lahir dan batin, bukan? Orang-orang yang kecukupan jasmani dan rohaninya, bukan? Nah, tentunya Tuhan memberkati orang yang menuju ke sana; ke arah gemilangnya persaudaraan sejati. Semoga!
Dengan penuh Cinta
Ernst memalingkan wajahnya dari halaman blog Dmitri yang telah selesai ia baca isinya. "Kamu mancing perang saja sama ketua klub seni rupamu itu. Dan... aku harus bikin lagu dari tulisanmu ini?"
Di belakangnya, Dmitri mengedikkan bahu. "Bukan harus, Ernst. Tapi sebaiknya. Kalau kamu bisa saja."
"Dimi, kenapa?"
"Kenapa? Yah, kamu kan sudah baca. Aku terlalu bebal dan degil untuk mengubah cara berpikirku."
Ernst tertawa kecil. Ia memutar kursinya dan menghadap Dmitri. Inilah Dmitri yang ia kenal. Dmitri yang bersuara keras terhadap pengekangan. Dmitri yang skeptis dan sinis terhadap kekerasan. Dmitri yang menyengat seperti lebah dan melontarkan kata-kata berbisa kepada pihak yang menginjak-injaknya, namun berhati lembut seperti kupu-kupu pada orang-orang yang disayanginya. Dmitri yang meradang saat ketua klub seni rupanya menyuruhnya mengubah lirik lagunya yang memprotes terlalu kakunya kelembagaan dalam klub. Dmitri yang tidak bisa bersikap santun dan lemah lembut, tapi selalu berusaha untuk memikirkan perasaan orang lain dulu sebelum mengatakan atau melakukan sesuatu.
Setiap kali Dmitri mengasosiasikan dirinya dengan pihak yang disakiti, Ernst merasa kekagumannya pada Dmitri membengkak lebih besar dari sebelumnya.
Dua hari setelah Dmitri memintanya membaca tulisan itu, alunan suara piano Ernst mengiringi Dmitri menyanyikan lagu berjudul Hello, Leader!.
(For Grandfather, who taught us that both Love and respect goes in an endless circle. May your soul rest in peace. And for Father, who taught us to think in others' shoes first before we take the first step to real action. May you be safe wherever you are.)
Marlowe, I hope the joke of Dracula's going alright. Hope too your therapist did get it. ^^
uncomfortable